Motivasi Tuhan

Motivasi Tuhan

Cara bersikap seorang anak akan melihat dari lingkungan sekitarnya termasuk dari kedua orang tuanya. Meski tak bias sama persis, karna buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya bukan buah akan jatuh di pohonnya. Dan ketika biji dari buah jatuh tadi ditanam, ia tak akan bias sama persis dengan pohon dimana ia berasal. Ia akan tumbuh dengan jalannya sendiri, tentunya dengan tempaan hidup yang berbeda-beda.

Jika demikian persoalannya, maka setiap orangtua harus berusaha menjadi teladan bagi anaknya dalam segala hal, meski tidak sempurna. Karna kesempurnaan hanya milik Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan berani menciptakan sebaik-baik ciptaan –jika dibandingkan dengan ciptaan lainnya- yaitu manusia. Tuhan mengajarkan keadilan dengan sifat maha adil-Nya, maka manusia berusaha untuk menjadi menjadi adil sesuai yang dicontohkan sang Pencipta meski jelas keadilan manusia tak bias menyamai keadilan Tuhan.

Jika seorang ayah memiliki dua anak, kemudian si ayah membelikanbaju untuk keduanya. Kira-kira keadilan bagaimana yang dipraktekkan si ayah? Apakah ia membelikan baju yang sama untuk kedua anaknya padahal seleranya tidak sama? Ataukah membelikan sesuai selera masing-masing? Jika solusinya dibelikan menurut selera masing-masing, maka akan timbul masalah baru, yakni pada perbedaan harga. Baju si A seharga 50.000,- dan baju si B seharga 35.000,-, berarti si B masih memiliki jatah 15.000,- untuk mencapai titik keadilan, sedangkan tak ada baju dengan harga semurah 15.000,-. Lantas bagaimana?

Begitulah lemahnya manusia, sekuat apapun usaha kita tidak akan pernah bisa menyamai kekuatan Tuhan. Sehebat apapun kita tetap Tuhan-lah yang lebih hebat. Sesempurna apapun kita tetap Tuhan yang lebih sempurna, karena Ia Maha Sempurna dan Maha Agung. Maka pantaskah kita menggugat Tuhan?

Ditengah Panggilan dhuhur-Nya

Kamar 212, 3 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *