Pondok Pesantren “Wali Songo” atau biasa disingkat (PPWS) atau Pondok Ngabar didirikan oleh K.H. Mohammad Thoyyib pada 18 Syawwal 1380H/4 April 1961H, dan diwakafkan pada 22 Sya’ban 1400H/8 Juli 1980 oleh K.H. Ahmad Thoyyib dan K.H. Ibrohim Thoyyib.Terletak di sebuah desa kecil Ngabar Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur sekitar tujuh kilometer selatan kota. Sepeninggal pendiri dan wakif, PPWS saat ini dipimpin secara kolektif oleh tiga pimpinan (Tri Tunggal) yaitu K.H. Heru Saiful Anwar, M.A., K.H. Mohammad Ihsan, M.Ag, dan K.H. Moh. Tholhah, S. Ag. sudah lebih 50 tahun, PPWS Ngabar secara aktif ikut memberikan kontribusi bagi dinamika pembangunan bangsa dan negara. Tidak kurang 7600 alumni telah dihasilkan PPWS; mereka datang dan tersebar di seluruh pelosok nusantara dengan segenap profesi dan bidang garapan. Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai kiai, ulama, guru, dosen, wartawan, praktisi hukum, entrepreneur, bahkan politisi. Kesemuanya menunjukkan khasanah pengabdian Pondok Ngabar bagi masyarakat luas.

Nama “Wali Songo” yang berarti sembilan orang wali, diadopsi dari nama para sunan dan tokoh-tokoh da’i di zaman Majapahit dan Demak yaitu, 1. Sunan Malik Ibrahim, 2. Sunan Ampel, 3. Sunan Giri, 4. Sunan Drajat, 5. Sunan Bonang, 6. Sunan Muria, 7. Sunan Kudus, 8. Sunan Kalijaga, 9. Sunan Gunung Jati. Mereka dianggap berjasa besar dalam penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa. Perjuangan para wali tersebut sangat berkesan di hati pendiri Pondok Ngabar sehingga memberi nama “Wali Songo” kepada pondoknya. Pemberian nama itu juga didorong dua hal; pertama: keinginan untuk mengingat jasa-jasa para wali dalam bidang dakwah Islam di Indonesia. Kedua: keinginan untuk mewarisi sekaligus meneruskan semangat dan usaha para wali dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam. Dengan demikian, diharapkan santri-santri PPWS Ngabar kelak setelah tamat dapat meneladani mereka dalam mengemban amanah dakwah. Secara historis pula, santri pertama yang datang mondok di Pesantren ini berjumlah sembilan orang yang berasal dari berbagai daerah. Usul penamaan ini dikemukakan oleh K.H. Ibrohim Thoyyib dalam pidato pembukaan dan perkenalan dengan santri baru dan kemudian disetujui hingga sekarang.

Cita-cita mendirikan pondok pesantren telah lama ada di benak K.H. Muhammad Thoyyib melihat kondisi lingkungannya yang rusak. Kebiasaan minum arak, candu, dan berjudi telah merajalela di tengah masyarakat. Sehingga Kiyai Thoyyib melihat hanya lewat jalur pendidikan kondisi masyarakat akan berubah. Sebagai gagasan awal, beliau menyekolahkan ketiga putranya ke pondok-pondok sekitar seperti, Tegal Sari, Joresan dan Gontor.Kemudian setelah tamat dapat membantu merintis berdirinya lembaga pendidikan Islam pertama berupa Madrasah DiniyyahBustanul Ulum Al-Islamiyah” (BUI) di Ngabar pada tahun 1946.Pada awalnya, madrasah ini masuk sore hari kemudian berubah pagi hari dan namanya diganti menjadi Madrasah Ibtidaiyah “Mambaul Huda Al-Islamiyah” pada tahun 1958. Untuk menampung lulusan sekolah ini kemudian dibuka Madrasah Tingkat Lanjutan “Tsanawiyah lil Mu’allimin” tahun 1958 yang kemudian berganti menjadi “Manahiju Tarbiyatil Mu’allimin/Mu’allimat Al-Islamiyah”pada tahun 1972 dan berubah menjadi “Tarbiyatul Mu’allimin danTarbiyatul Mu’allimat al-Islamiyah”tahun 1980. Sistem pendidikan pesantren dengan nama Pondok Pesantren “Wali Songo” diselenggarakan pada 4 April 1961.

menuju official Website www.ppwalisongo.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *