Terjadinya “Asrama Empat Mei 36 A,B,C,D” memang mempunyai sejarah tersendiri dimana sebelum dinamai seperti demikian tempat tersebut adalah Rayon “Sunan Gunung Jati”, adapun pengurus pusat sebelumnya bertempat di gedung “Indonesia Muda” (yang sekarang menjadi kantor Yayasan), perpindahan dari gedung Indinesia Muda ke rayon Sunan Gunung Jati betul-betul melelahkan. Bayangkan, begitu banyak peralatan organisasi, mulai dari almari sampai ke arsip-arsip dan juga puluhan kotak pengurus diangkat dan diangkut hanya oleh delapan orang personil dalam satu malam, terlepas dari semua itu, kepindahan yang disetujui oleh semua pengurus yang pada saat itu berjumlah 36 personil yang dikoordinatori oleh Moh.Thoha Yusuf Zakaria atas pertimbangan beberapa hal, antara lain:

  1. Gedung Indonesia Muda kurang strategis sebagai tempat pengukur kerja tidak dapat bekerja semaksimal mungkin sebagaimana diharapkan. Karna gedung tersebut terlalu jauh untuk dapat memantau perkembangan dan aktivitas anggota.
  2. Letak gedung Indonesia Muda berjauhan dengan masjid, sehingga dengan demikian selain Majlis Da’wah banyak yang berjamaah di kamar dengan berbagai alasan.
  3. Para pengurus menginginkan bersama-sama dengan anggota menjalankan sunnah-sunnah pondok, seumpama bahasa dan lain sebagainya.

Oleh karena itu dengan keputusan bapak Pimpinn Pondok KH. Ibrohim Thoyyib, bertepatan dengan tanggal 4 Mei 1988 M, Pusat kepengurusan telah berpindah ke Rayon Sunan Gunung Jati. Namun setelah berjalan beberapa waktu, nama tempat ini belum juga ada, karena itu dikumpulkanlah seluruh Badan Pengurus Harian (BPH) yang pada waktu itu dihadiri oleh 7 orang personil antara lain:

  1. Ketua Umum        : Moh. Thoha YZ                    dari Bondowoso
  2. Sekretaris Umum  : Ahmad mikan                      dari Rembang
  3. Bendahara Umum : Almujaini                             dari Aceh
  4. Kabid Intern          : Abdul Jalil                            dari Singapura
  5. Kabid Extern        : Asep Mahmud                     dari jakarta
  6. Kabid PMP          : Sayid Umar                        dari Samarinda
  7. Sekretaris I            : L. Syamsul H                        dari Lombok

Pada saat itu terjadilah musyawarah yang cukup hangat terhadap pemberian nama tempat pusat kepengurusan itu dengan bermacam-macam usulan nama dan alasannya yang dikemukakan oleh masing-masing peserta musyawarah.

Abdul jalil                   : Saya lebih cocok dengan nama “Miftahul Khoiri”, mudah-   mudahan kepengurusan akan lebih baik dengan perpindahan ini.

Ahmad Mikan             : Menurut pendapat saya “Miftahul Huda” saja, semoga kepengurusan kita di tempat ini selalu dengan limpahan petunjuk dari Allah.

Asep Mahmud            : Menurut saya yang paling cocok hanya gedung “Bangkit”, karna memang semua pengurus dari semua bagian bertekad untuk membangkitkan kegiatan organisasi. Kita haap tempat ini adalah awal dari kebangkitan kepengurusan sampai tahun mendatang.

M. Toha YZ.               : Kalau menurut kak Syamsul bagaimana….?

L. Syamsul H.             : Saya setuju dengan gedung “Bangkit”, seperti yang dikatakan kak Asep tadi.

M. Toha YZ.               : Kalau kak Umar bagaimana…..?

Sayid Umar                 : Saya juga sama dengan kak Syamsul gedung “Bangkit” rasanya lebih mengena.

M. Toha YZ.               : Apa semua setuju dengan itu….?

Al – Mujaini                : Kak saya usul……

Kita semua ingat bahwa perpindahan ke tempat ini bertepatan dengan tanggal 4 Mei, jadi beri saja namanya dengan “Gedung Empat Mei”.

Asep Mahmud            : Kalau begitu saya lebih setuju dengan itu !. Tapi, jangan “Gedung Empat Mei”, karena gedung biasanya berdiri sendiri, sedangkan tempat kita ini bersambung dengan kamar anggota, nah ! Jadi, kita sebut saja “Asrama Empat Mei” Bagaimana….?

Akhirnya di ketuklah meja tiga kali oleh ketua umum menandakan disetujuinya nama itu. Setelah itu mengenai tambahan 36 adalah karena personil Pengurus Pusat pada waktu itu berjumlah 36 orang dikamar kepengurusan di urutkan dari selatan dengan sebutan A-B-C-D, kamar A di pergunakan sebagai kantor pengurus. Lengkaplah sudah nama yang di idam-idamkan “ASRAMA EMPAT MEI”.

Sumber: buku statuta PIWS tahun 1992

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *